Kamis, 29 Oktober 2009

Lima Es



Saat adzan maghrib tiba, orang-orang segera ke sebuah masjid yang dikenal sebagai mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Datanglah seorang imam muda yang mempunyai tanda hitam di dahinya membuat kami segan. Tatkala merapikan shaf dikatakannya dengan
agak ketus tanpa senyuman, 'shaf, shaf, rapikan shafnya!', suasana sholat berubah tegang dan sulit untuk khusyu'.

Pada saat yg lain sewaktu jalan-jalan ke Perth, negara bagian australia, tibalah di sebuah taman.
Sungguh mengherankan, hampir setiap hari berjumpa penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa,'Good morning' atau yg lainnya. Semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan.

Dua keadaan di atas bukannya untuk meremehkan siapapun melainkan untuk mengevaluasi kita bahwa luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan tidak ada artinya kalau kita kehilangan perilaku standar yg dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah untuk merontokkan kewibawaan dakwah itu sendiri.

Perilaku standar itu disebut dengan 5 S yaitu :

1. Senyum
Kata-kata yg disampaikan dengan senyuman yg tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah sekalipun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Apakah kita termasuk orang yg senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk senyum, bahkan dengan orang yg terdekat dengan kita?

2. Salam
Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana mencair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin segera menjawabnya, disitu ada nuansa tersendiri. Mengapa kita begitu enggan mendahului mengucapkan salam?

3. Sapa
Bila kita disapa dengan ramah oleh orang, rasanya suasana menjadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat dimasjid, meski duduk seorang jamaah disebelah kita, toh nyaris jarang menyapa, padahal sama-sama muslim, sama-sama sholat dan satu shaf bahkan berdampingan.

Mengapa kita enggan menyapa?
Mengapa harus ketus dan keras?
Tidakkah kita bisa menyapa dengan ramah dan lembut
sehingga orang bisa menyapa getaran kemuliaan yang
hadir bersamaan dengan sapaan kita?

4. Sopan
Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat didepan orang tua dan menghormatinya. Apakah kita termasuk orang yg sopan ketika duduk, berbicara dan berinteraksi dengan orang lain termasuk yg lebih tua?

5. Santun
Kitapun berdecak kagum melihat orang yg mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, dijalanan atau sedang dalam antrian demi kebaikan orang lain. Orang mengalah memberikan haknya untuk orang lain untuk kebaikan.

Sejauh mana kesantunan yang kita miliki?
Sejauh mana kita rela hak kita dinikmati orang lain dan kita turut bahagia?
Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf dan kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik atau membalas kekurangbaikan sikap sesorang yang baik.

Diambil dari :
Kolom Muhasabah oleh KH. Abdullah Gymnastiar [Aa Gym]

1 komentar:

  1. dengan bismillah semoga apa yang saya muat disini dapat bermanfaat bagi saya dan semua

    BalasHapus